“Kita harus mendoktrin agar anak-anak harus membaca tapi dengan cara yang benar agar anak-anak tidak menghindari bacaan. Gemar membaca ini harus diseberluaskan karena membaca ini salah satu kunci sukses,” terang HD.
Namun di kesempatam ini juga ada hal yang paling penting diingatkan oleh HD kepada para pemuda adalah untuk terus berinovasi, mengejar informasi dan teknologi tapi jangan pernah meninggalkan kearifan lokal.
“Kita boleh modern, kita boleh ikut perkembangan dunia ini tapi kita jangan pernah tinggalkan kearifan lokal sebagai ciri khas warga Sumsel. Kita jangan pernah malu menampilkan kearifan lokal bahkan ini kita harus pertahankan,” tutup HD.
Sementara itu, Duta Literasi Provinsi Sumsel Hj. Percha Leanpuri mengatakan festival literasi ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2020.
Literasi sekarang menurut Percha bukan hanya sekedar kemampuan menulis dan membaca tapi pada era sekarang mulai bergeser bagaimana sebagai individu melakukan pemahaman dari apa yang dibaca dan menulis serta menggambarkan dari aktivitas sehari-hari, sehingga lanjutnya definisi literasi ini menunjukan paradigma baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya.
“Literasi memiliki banyak variasi seperti literasi media, bagaimana para media dan juga kita (para pembaca) dapat memahami dan memaknai isi media tersebut dan tidak tergiring berita -berita hoaks. Seperti juga contohnya Literasi Keuangan yang dilalukan pihak perbankan melalui prodak -prodak yang dikenalkan kepada masyarakat. Kemudian Literasi komputer, Literasi Sains, Literasi Sekolah dan hal lainnya,” ungkapnya.
Lebihn lanjut Percha menyebut, hakikat berliterasi secara kritis dalam masyarakat demokratis dapat diringkas diantara adalah memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, mentransformasi teks yang di baca. Kesemuanya, menurutnya merujut pada kompetensi dan kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis.



















